Kehilangan Cinta Karena Sebuah Janji
Awalnya kami mengenal melalui jaringan sosialis yaitu “Facebook”, aku mengenal dirinya tanpa melihat wujud aslinya. Perasaan “suka” muncul begitu saja, aku pun tak tahu kapan hal itu terjadi. Terus menerus aku selalu menjalin kontak padanya. Aku tidak tahu bagaimana perasaanya padaku, aku hanya terus mencoba menutupinya saat kami saling canda.
Setelah kurang lebih setahun aku menutupi rasa sukaku padanya, ia banyak cerita padaku masalah kesedihannya yang juga membuat hatiku terasa dicengkram sangat sangat sakit dan hingga airmata ini keluar begitu saja. Dan ternyata kutahu setelah temanku memberitahuku bahwa ia pun menyukaiku, aku tersenyum di dalam hati yang malu dengan wajah memerah. Di sisi lain, hatiku berkata aku tak bisa menjadi miliknya. Hati ini terasa menjadi sedih saat itu.
Sekitar tanggal 16 Agustus 2010 aku mengatakan padanya bahwa aku menyukainya melalu salah satu alat canggih “Ponsel”. Entah bagaimana tanggapannya karena ia tak membalas apapun, aku pun juga tak bisa menahan lama rasa ini. Saat kudengar lagu yang tak sengaja kudengar di profilnya, aku menangis. Setelah selesai lagu itu langsung kudownload. Dengan lagu itu, kesedihannya bisa kurasakan hingga membuat airmataku berjatuhan.
Setelah kukatakan itu, kami tak ada kontak. Kami saling menjauh, bahkan sangat jauh. Bukan saja raga kami yang memang dari dulu jauh namun jiwa kami juga semakin jauh. Ingin rasanya aku kembali ke masa itu. Jika saja saat itu kukatakan dengan tegas padanya bahwa “rasa sukaku ini berubah menjadi cinta” mungkin aku bisa bersamanya.
Hatiku terluka saat ia menjauh dariku. Aku hanya bisa menutupi kesedihanku dengan senyum manis dan membawa hati ini dengan bercanda bersama teman-teman karena aku tidak ingin terlihat sedih di depan banyak orang. Karena itu kami tak ada kontak lagi, namun di sisi lain kuteringat pada mamaku yang selalu memberiku nasehat bahkan yang paling kuingat adalah janjiku padanya. Entah sampai kapan aku bisa menepatinya. Janji itu kubuat saat aku masih SD, itu pun aku tak tahu apa arti janji dan sekarang baru kusadari bahwa “Janji” itu harus ditepati.
Kata mama setelah sekolah atau setelah kuliah baru boleh pacaran
Aku berkata seperi ini “ya nggak lah, ma! Aku nggak akan pacaran sebelum sukses, aku juga masih kecil”
Saat itu aku memang masih kecil, sekarang kusadar kata-kata itu tak berguna lagi karena rasa suka itu muncul begitu saja dan bisa berubah seenaknya saja menjadi “Cinta” . Setiap ingin berniat pacaran, selalu saja teringat janji itu. Aku harus tepati, entah sampai kapan aku bertahan dengan hal itu sedangkan godaan semakin menantang. Aku hanya bisa terdiam membisu.
Terkadang aku menyesal “mengapa aku berkata begitu pada mama”
Banyak sekali halangan yang kuhadapi, jika berniat untuk pacaran aku selalu dihalangi namun tak secara langsung. Seperti halnya sewaktu aku melihat info teman di Facebook yang “add me” aku melihat infonya seperti ini
“aku tidak mau pacaran, aku mau langsung menikah”
Dan juga
Aku membaca note di facebook yang berjudul “Aku Ada Untuk Menebarkan Cinta Karena (Aku Mencintaimu)”
Dan aku juga ingin seperti kakak ke-3 ku yang sama sekali belum pacaran. Aku ingin begitu, namun bisakah aku seperti apa yang kuinginkan?!
Aku kehilangan cintaku hanya karena sebuah janji dengan seseorang yang sangat berharga bagiku, walau ia telah tiada saat ini. Tempatku bertanya jika ku salah jalan sudah tiada. Hanya satu impianku, yaitu …
“mencapai kebahagian yang penuh kehangatan dengan setulus hati”
Impian yang selalu kudambakan dan selalu kumenunggu dengan doa ini. Berharap itu akan terjadi suatu hari nanti di masa depan. Tak ada kesedihan yang tersela di dalamnya, hanya ada senyum dan airmata kebahagiaan yang akan menghiasi kebahagiaan itu.
"Thursday, April 14, 2011"
lebih jelasnya copy-paste link ini:
http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150180558885547#!/note.php?note_id=10150151845090547
Tidak ada komentar:
Posting Komentar