Rabu, 20 April 2011

Awal Kehidupan yang Sulit

Keadilan Tuhan

Awal Kehidupan yang Sulit

Sewaktu aku berumur sekitar lima tahun, aku selalu bermain bersama teman-teman di dekat rumah. Kami bermain selayaknya seperti anak-anak. Sekitar umur 6 tahun pada bulan Juli 2001, aku masuk di sekolah dasar.

Setelah mengenal lebih dekat dengan teman-teman sekelas, itu sekitar kelas 2 atau kelas 3. Aku dihina, aku dijauhi, aku diremehkan oleh teman sekelasku karena kekuranganku. Aku yang memang dari kecil tidak memiliki bulu alis seperti yang lainnya, aku hanya terdiam membisu dan menjauhi mereka, aku selalu menyendiri.

Di tempat ngaji, aku mengaji di tempat ngaji di suatu mesjid di daerahku. Aku pun di sana dihina dan dijauhi, hanya sedikit yang mau mendekatiku bahkan aku pernah dikatakan “Sii Buruk Rupa”. Aku hanya bisa terdiam saja dan pergi menjauh, walau tadi aku sempat mengelak dan marah padanya. Aku selalu ditertawakan, aku selalu menangis di kesendirian, aku selalu mentupi kesedihan itu. Aku berusaha y=tidak bersedih di depan orang-orang. Aku selalu bercermin dan melihat rupa wajahku

“ternyata aku memang jelek! Kelihatan tua karena selalu merengut” kataku dalam hati

Karena selalu dihina, akutidak percaya diri untuk berteman. Aku hanya bisa memberikan teguran saja kepada orang sebayaku yang tidak kukenal, namun ia mau berteman denganku dan selalu menegur.

Di rumah, aku pun juga dihina karena aku tak punya bulu alis. Aku ingin lari dari semua itu namun aku harus ke mana. Aku hanya bisa berdiam diri di rumah di temani saudara-saudaraku yang juga pernah mengatakanku “anak pungut” hingga aku bertanya pada mamaku. Mamaku mengatakan tidak, aku adalah anak kandungnya. Aku seperti diasingkan oleh saudaraku sendiri.

Hati ini perih, sangat perih saat selalu sendirian dan tidak ada teman yang menemaniku bermain. Terkadang mereka membicarakanku dari belakang apalagi teman kecilku juga ikut membicarakanku. Aku hanya bisa terbungkam. Rasa benci terhadap teman pun muncul begitu saja.

Di kelas 4 atau 5 SD, kemampuan berhitungku mulai terlihat. Aku sangat ahli di bidang matematika, banyak teman sekelasku bertanya kepadaku hingga teman laki-laki ku yang berjabat sebagai ketua kelas di kelasku yang memang pintar menjadi iri padaku, perkata itu kuingat hingga sekarang “kamu tanya Rukaini saja sana!”. Aku sedikit terkejut dengan hal itu, namun saat mereka perlu saja datang padaku saat tidak ada perlu mereka menjauhiku. Itu membuatku sedih dan berpikir aku tak ingin menpercayai seseorang lagi.

Ada guru bahasa Inggris yang baru yang berasal dari Afrika, kami menyebutnya “Negro”. Aku pun juga sangat bidang dalam Bahasa Inggris sejak kedatang orang itu di sekolah kami. Aku pun sempat marah pada guru itu karena mempermainkanku dan membuatku menangis.

Aku dikatakan sebagai salah satu anak pintar di kelas oleh teman-teman dan guru-guru. Betapa senangnya aku, karena kepintaran ini aku diakui dan aku merasa berguna dan aku merasa tidak sia-sia aku lahirkan di dunia ini. Aku punya banyak teman, di sekolah maupun di luar sekolah karena kepintaran dan keramahanku dalam menyapa seseorang.

Kelulusan, aku lulus bersama teman-temanku. Bangganya aku, walaupun kami bekerja sama mengerjakan ujian itu. Di dalam hati berkata “aku ingin cepat-cepat lulus dan pergi dari sekolah ini, aku sudah muak!!!”. Akhirnya aku pergi dari sekolah itu dan berniat tidak akan pernah kembali lagi.

Di SMP, awal masuk aku menjadi anak yang sangat pendiam. Saat MOS, aku melihat anggota OSIS. Ada salah satu anggotanya yang kusukai, seorang laki-laki. Aku suka melihat wajahnya yang sangat tampan bagiku saat itu. Setelah pembagian kelas, ternyata aku masuk dalam kategori kelas “UNGGULAN (A)”. itu adalh kelas bagi orang yang pintar dan terletak di lantai 3 paling atas. Masya Allah, tidak kusangka aku masuk ke kelas itu.

Sekitar hampir dua minggu aku di kelas itu, kepintaran menghitungku terlihat dan mereka banyak tanya bapaku masalah matematika. Awalnya mereka juga menjauhiku, mungkin karena rupaku yang sangat jelek dan saat itu wajahku ini berkulit sangat hitam dan benar-benar tidak nyaman untuk dipandang. Ya, seperti biasanya aku selalu mendapat ejekan yang selalu membuatku mider, aku selalu menyendiri dan jarang bergaul. Dihina dihina dan dihina. Itulah yang selalu kudapat di setiap kuberada.

Setelah bulan puasa sekitar tahun 2007, wajahku drastis berubah. Banyak orang bilang kalau wajahku beputih, ya itu karena aku sering di rumah dan jarang bermain keluar. Paling-paling hanya bermain dengan kakakku di rumah, main bola kaki. Namun keminderanku masih selalu ada. Jalanku yang selalu menunduk ke bawah membuatku rendah diri dan percaya diri pun tak ada.

Pernah aku berkata mamaku “ulun dipadahi pintar awan kawalan”

Mama menyahut “itu sudah, biar ikam dipadahkan urang jelek kah? Tapi ikam pintar banyak tu ikam kawal”

Aku senang menjadi anak pintar namun ada juga yang tidak kusenangi dalam menjadi anak pintar yaitu dibilang pelit. Aku telah berusaha mengerjakannya namun mereka seenaknya saja menyontek, terkadang aku sedang asyik mengerjakan mereka selalu menggangguku dan banyak bertanya kepadaku. Terkadang aku kesal namun itu hanya di dalam hati saja.

Di kelas 9, aku pindah di kelas regular (B) karena nilaiku tak mencukupi untuk bisa bertahan di kelas yang sama. Aku memang meiliki sedikt masalah di rumah. Di kelas baruku, aku hanya diam saja karena selalu diam aku mencoba menyapa seseorang. Kusapa dengan senyuman dengan teman baru di kelas yang bernama “Rossa” dan ternyata di sana ada teman SD ku yang bernama “Annisa” yang juga sekelas denganku.

Di kelas beruku, aku memiliki banyak teman bahkan semuanya tidak berani padaku karena sikapku yang tegas dan sedikit seperti laki-laki (tomboy). Aku pernah dikatan “pereman” oleh temanku. Dan karena aku banyak teman sampai ada yang iri padaku. Dia berburuksangka padaku, aku tidak berniat mengambil temannya namun aku hanya ingin memiliki teman banyak.

Ya, aku juga dihina karena tidak ada alis namun di kelas itu membuat aku percaya diri akrena punya banyak teman. Bahkan aku melawannya (laki-laki), dan ia ketakutan. Teman-temanku banyak mengatakanku anak yang “cuek, jutek, terlalu jujur hingga membuat orang sakit hati, pukulannya mengerikan, sangar dan lainnya” namun umunnya adalah “cuek dan jutek”. Karena kelas itu, aku membenci kelas lamaku yang membuatku tidak punya teman, aku tidak terlalu menegur dengan teman di kelas lamaku karena aku terlalu sering dengan kesepian dan disakiti.

Ujian Nasional tahun 2010, aku lulus dalam ujian dengan hasil yang murni tanpa enyontek. Betapa bangganya aku lulus pertama dengan nilai murni di tahu 2009. Dan mamaku tak bisa meliha kelulusanku karena ia telah tiada di pertengahan saat aku kelas 9. Ya aku sedikit kecewa karena mama tidak kbisa melihat kelulusan ini. Dan aku berniat sebelum lulus aku akan pergi ke makam mama dan meperlihat kelulusan ini dengan doa-doa yang akan kukirimkan namun tidak tersampaikan. Aku kecewa, sangat kecewa padahal aku ingin hari itu juga bisa ke tempat mama namun karena jalan raya sangat macet jadi kami batalkan. Surat kelulusan pun belum kulihat, di perjalanan kakakku ingin melihat isi amlop yang berisi nilai-nilaiku.

Di hari libur, aku pergi ke rumah nenek. Aku menjenguk nenekku yang sudah sangat tua, tiba-tiba om-ku berkata “ikam pernah bilang kalau ikam lulus handak ke wadah mama” lalu ku sahut “iya”

“sudahlah ikam ke sana?!” tanya om-ku

“belum”

“kada bulih, ikam benazar itu! ikam harus ke sana karena ikam sudah beniat” kata om-ku denga tegas

Aku sedikit terkejut mendengarnya, jantung ini tiba-tiba deg-degan terasa ada ketakutan lalu kusahu “iya, kena ulun ke sana”

“jangan kada ke sana ikam!”

Setelah beberapa hari kemudian, nazarku kulaksanakan dan aku ke oergi ke makam mama kudoakan dia dan kucium nisannya denga tangisku. Aku berkata dalam hati “ma, Alhamdulillah ulun lulus” sambil mencium kayu nisan itu. Berat rasanya ku meninggalkan tempat itu karena kumerasa sangat dekat dengan mama di sana.

Aku sempat kebingungan mencari teman sekolah karena aku tidak lulus di Negri, tinggal besok baru orang sekolah. Aku sempat bingung dan mulai pasrah dan berpikr “aku akan jadi anak yang tidak bersekolah” dan ternyata ada sekolah yang disarankan oleh istri baru ayahku, awalnya aku tidak mau mengikuti apa kata istri ayahku namunayahku menyuruhku untuk mencoba dan ternyata buka. Alhamdulillah, aku bisa bersekolah dan aku diterima di sekolah itu. Syukur yang terhingga, hati ini lega bisa masuk ke sekolah karena aku malu tidak bersekolah.

Keesokan harinya, awal aku masuk di sekolah baruku. Aku menjadi ousat perhatian dengan pakaian yang sangat berbeda. Berjilbab putih panjang, baju bertangan panjang dan rok putih yang panjang hingga ke mata kaki itu membuat jalanku sedikit pelan. Yang lainnya berjilbab biasa dengan pakaian SMP mereka masing-masing. Karena pakaianku yang memang aturan di sekolah itu, aku jadi model untuk memperkenalkan pakaian di sekolah itu. Aku hanya menundukkan kepala karena malu.

Setelah beberapa hari kemudian, sekitar seminggu pembagian kelas tiba. Terbagi 4 kelas, yang pertama TKJ 1, MM, TKJ 2 dan AK. Aku masuk di kelas MM karena mengambil jurusan Multimedia, di kelad baruku aku banyak diam dan tidak banyak bicara. Hari-hari berlalu, aku duduk di kursi yang sama, awal perlajaran kami harus memperkenalkan diri. Ada teman sebelahku yang menegurku dan bertanya siapa namaku dan aku menjawabnya.

Tidak terasa sudah hampir dua bukan aku di sekolah itu, aku punya teman walau yang kukenal hanya sedikit. Yang mejadi teman akrabku adalah teman di belakangku “Julaeka (Eka)”, aku tak mengerti mengapa kami bisa dekat dan aku selalu melihat ke belakang dan mengobrol padanya. Akulah yang menjadi badut di barisanku, aku selalu membuat lelucon untuk teman-temanku bahkan ada yang meminta nomor HP-ku. Di sana aku juga termasuk anak yang pintar, banyak orang mengira aku anak yang pendiam dan ternyata banyak omong aku pun tidak tahu kapan itu terjadi mungkin karena ku memiliki banyak teman.

Tepat pada tanggal, 06 Desember 2010 hari Senin, aku berkelahi dengan teman sekelasku yang bernama Azizah. Ia membuatku sangat emosi dengan nada bicaranya yang sangat menyolot membuat telinga ini menjadi sangat sakit dan panas hingga aku memukul meja dengan tangan kananku. Saat itu emosiku benar-benar tidak bisa terkendalikan, sampai kuacungkan jariku ke wajahnya ia pun membalasnya. Tangan kanan menggenggam erat untuk menahan emosi, tiba-tiba kupukul meja yang ada di belakangku dengan tangan kananku. Terdengar sangat nyaring suara tinjuanku ke meja itu. mau kehajar, aku banyak dihalangi oleh teman-temanku. Lalu aku berjauhan jarak padanya, karena muak melihat wajahnya yang menyebalkan kursiku kuangkat dan mau kulemparkan ke arahnya namun ada yang membisik entah Malaikat atau siapa“ingat, di sekolah! Jangan berkelahi di sini!”. Akhirnya aku tidak jadi melemparkannya kursi yang berat itu.

Walau berat, walau sakit itu takkan terasa jika sedang emosi. Dada ini terasa panas melihat kelakuannya padaku namun bukan aku saja tetapi yang lain juga pernah diperlakukan seenaknya. Saat itu ada guru yang masuk namun aku tak menghiraukannya. Karena perkelahian itu, semuanya berkumpul dan bertanya-tanya padaku apa yang terjadi dan mereka menyangkut pautkan masalah itu dengan kelakuan Azizah pada mereka. Kami semua emosi dan membenci dirinya “Azizah”. Dia pergi ke lab bersama sebagian teman sekelasku karena kelopmok satu yang masuk ke lab namun ia kelompok 2, dia sekelompok denganku. Temanku semua melihatku karena mungkin melihat wajahku yang sangat ganas saat itu.

Ada yang berkata bahawa ia takut denganku. Kami semua membencinya karena kelakuannya yang serba “SOK”. Dan karena itu pula aku mendapatkan”Teman Kumpulan”, kami selalu berkumpul sekitar sepuluh orang dengan satu laki-laki tapi saat itu kami belum terpikirkan untuk membuat namanya. Karena sudah hampir dua bulan kami selalu berkumpul, aku terpikirkan untuk membuat namanya bubuhan. Ada empat orang yang awalnya sering berkumpul yaitu, Nuzu, Icha, Eka, dan Dini aku memberinya nama “Yin She” yang berarti empat perempuan sedangkan aku, Iqhoy, Canke, Rana, dan Tya kubernama “Fison” yang kepanjangan dari Five Person yang berarti lima orang. Lalu yang satunya adalah Adha, dia sangat jarang bersama kami.

Betapa sangat senangnya aku memiliki teman yang bisa berkumoul satu sama lain. Namun di benakku berkata “aku masih belum bisa mempercayai, karena aku telalu terluka karena teman dan persahabatan”. Bagiku terlalu menyakitkan, aku selalu menganggap orang lebih dan aku mulai belai sejak SMP aku tidak akan mudah terpengaruh lahi karena membuat hatiku sangat sakit. Dan ternyata, banyak teman-temanku menganggapku lebih mungki seperti kakak atau ade atau sahabat dan lainnya. Padahal di sisi lain aku tak menganggapnya, aku benar-benar merasa tidak nyaman. Aku senang dianggap lebih namun bagaimana jika seseorang itu hanya menganggap biasa saja?!

Aku mencoba untuk bisa mempercayai orang, tidak mudah untuk bisa mempercayai teman yang biasa kudapat selalu menyakitkan hatiku hingga airmata ini habis untuk menangisi perihnya hati. Aku bangkit lagi! Aku selalu berusaha naik yang awalnya aku terjurumus ke dunia kegelapan yang penuh dengan kesedihan, kesendirian, kesuraman dan tak bisa melihat indahnya dunia. Selalu kesepian, selalu menangis, selalu dan selalu.

Nama bubuhan kami adalah “The Tenson” kependekan dari sepuluh orang, karena terjadi pertengkaran karena salah satu dari kami ada kelakuannya yang benar-benar tidak disukai, kami menjauhinya kami ingin ia berubah dan merenungi apa kesalahnya. Kami tahu kami memiliki kekurangan juga. Jadi keluar satu dan tinggal Sembilan orang, nama itu kuubah menjadi “The Nine-Son” yang artinya Sembilan orang. Masalah demi masalah selalu ada! Kecewa dan sakit hati tersela di dalamnya namun kami hanya bisa diam saat terluka, kami hanya bisa tertawa seperti biasanya sedangkan saat itu kami sedang terluka karena omongan saja.

Cerita “Kumpulan Teman” ini sangatlah panjang. Aku yang dulunya sangat membenci yang namanya teman apa lagi persahabatan anehnya sekarang aku memiliki banyak teman yang menyayangiku dengan candanya. Teman memberika kehangat tersendiri, kita tak bisa bersedih saat berkumpul dengan teman, kita tidak bisa menangis saat berkumpul dengan teman karena teman adalah sekumpulan mutiara yang berkilau membuat kita terasa nyaman dan hangat bila selalu bersamanya. Rasa rindu ada ditanamkan di dalamnya, rasa bahagia akan tersela di dalamnya, dan rasa sakit juga ada.

Dan sejak aku SMK, aku semakin dekat dengan teman kecilku yang dulu sedang asyik dengan temannya di sekolah dan aku merasa ia melupakanku. Karena dialah aku membenci persahabatan, namun ternyata dialah yang menganggapku lebih yaitu “Sobat Kecil”. Sekarang ini, aku sudah bisa mempercayainya lagi.

Kusadari, aku telah tumbuh dewasa dan berpikir dewasa untuk kehidupan ini. Manusia bisa menyakiti dan disakiti, namun dengan itu kita bisa lebih kuat walau ada rasa sungkan saat berdekatan tetapi jangan putuskan tali persaudaraan. Jika tak ada kecocokan itu hal yang sangat wajar.

Belajarlah untuk mengerti dan memahami perasaan orang lain. Teman bisa menyakiti dan mengobati, anda adalah teman! Jika tidak ingin disakiti maka jangan menyakiti orang lain! Kehidupan seseorang bisa kita simpulkan dan dapat diambil hikamhnya, bukan kehidupan kita yang mengikuti cerita namun cerita yang mengikuti kehidupan kita.

Tuhan maha adil! Jika kita kuat menahan cobaan yang Tuhan berikan maka suatu saat Tuhan akan memberikan kenikmatan yang tidak disangka-sangka. Walau dalam cobaan yang kita hadapi selalu kita keluhkan di kesendirian atau di dalam hati tetapi kita harus selalu tetap bersabar, berusaha dan berdoa untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Tuhan tidak akan membuat umatnya selalu susah namun Dia juga akan memberika yang mudah kepada umatnya. Sadarilah kehidupan anda sangat berarti! Jangan sia-siakan kehidupan anda! Dangan jangan sia-siakan teman anda karena anda menyakiti dengan omongan dan sikap anda!

"Saturday, April 16, 2011"


Tidak ada komentar:

Posting Komentar